Suatu Malam Di Sekret Sukma

Malam kian larut. Derai hujan masih ramai di balkon sekret Sukma. Aku lihat jam di tanganku, jarumnya menunjuk angka 12 lewat 23 menit. Dua jam bergumul dengan laptop akhirnya bisa bernapas lega, proposal sudah selesai ku ketik semua.

Aku lirik kawan disebelahku, masih dengan konfigurasi yg sama; Diaz, Resi, Romen.
Tetapi hanya Romen yang beberapa menit lalu ku lihat masih sibuk dengan BlackBerry-nya diatas kasur, sekarang sudah berjalan ke alam mimpinya.

"Sejak jadi wartawan, si Romen jadi pelor ya, lihat kasur nganggur langsung tidur," kataku.
"Iya Wit, Romen mudah lelah sekarang," timpal Resi.

Aku matikan laptop dan membereskan kabel charger yang terurai di lantai.
"Yuk pulang," kata ku pada Diaz yang sejak tadi sibuk melukis dengan cat minyak sisa.
Saat aku sibuk mengetik proposal tadi, dia malah sibuk berimajinasi dengan warna-warna cat minyak yang terbatas. Padahal dia kan ketua panitia acara! gRrr..

Entah apa juga makna lukisannya. Ada gedung tua, kubah masjid, payung, dan seorang petani.
Kata dia sih lukisan itu ada filosofinya. Anehnya meski dia menjelaskan, aku tetap tak mengerti.
Biarlah hanya dia dan Tuhan yang paham.

"Wah kok balik sih?" Kata Resi
"Iya, besok kerja," jawabku
"Balik besok subuh aja ama gw, gw bawa motor kok," katanya menahan.
"Kagak ahh, lagipula gw tadi ijinnya gak nginep sama nyokap"
"Yah, gak jadi nonton donk nih, padahal gw udah download film bagus"
"Hehehe...," ku jawab hanya cengar-cengir.

"Wah, BlackBerry gw mati nih," ujar Resi yg kini beralih perhatian ke BB-nya.
"Tadi Romen ada cas-an, coba cari di tasnya," kata ku, karena aku sudah memasukkan charger milik ku ke tas.

Resi lalu bangkit dari duduknya, menyambar tas Romen dipojokan dan mulai merogoh isinya.
Sementara itu, aku dan Diaz sudah bersiap meninggalkan ruang kreasi kami.

Tiba-tiba Resi heboh sendiri, nampaknya dia menemukan sesuatu dalam tas Romen.
"Ya ampun.. ya ampun.. ya ampun, lihat di tasnya Romen gw menemukan apa?" katanya sambil memperlihatkan temuannya pada ku dan Diaz.

Sontak kami bertiga langsung tertawa geli.
"Wah nih anak udah siap-siap aja.. Ngeri di pulbus nih gw nginep di sekret ma dia," kata Resi lagi sambil terus memegangi kondom bermerek Fiesta itu.

"Kita pulang aja yuk Yaz, tinggalin Resi, haha.." kata ku ke Diaz sambil terus tertawa melihat tampang Resi.
"Yah, jangan pulang donk, gw gimana?" ujar Resi memelas.
"Ya lu baik-baik deh ma Romen disini, kita pulang dulu, ngeri boy, hahaha..." jawabku meledek.

Aku dan Diaz mulai menuruni tangga kayu yang sempit, meninggalkan Resi yang kebingungan mencari charger BB sambil terus memegangi 'kantung ajaib' yang ditemukan dalam tas sahabatnya itu.

Di jalan aku berdoa, semoga tak terjadi apa-apa pada mereka.
Jika tidak, tentu aku akan dapat peringatan (lagi) dari bude kosan... :P



Wiwit
-Ruang Kreasi Sukma, Januari 2012-



Badai Sudah Berlalu

Tetesan di mata sudah sirna
Menangis, aku lupa
Juga lupa, perih itu apa?

Dalam alam bawah sadarku
Aku menolak mengingat itu
Tentang kisah di masa lalu
Biar saja tergerus waktu

Sepi tak lagi asing
Pun tak membenci bising
Irama suara-suara nyaring
Biar saja tetap bergeming

Senandung rindu yang dulu
Pernah berganti irama sendu
Kini seruling syahdu
Bernyanyi hilangkan pilu

Sepasang mata malaikat
Menuntunku tanpa sekat
Melewati rasa sembilu
Dan badai pun berlalu...



Sebuah catatan tentang hari ini, setahun yang lalu
Wiwietz / 14 Januari 2012

Kembali Sebelum Hujan

Berpijak diatas bumi
Melihat awan bersedih hati
Ia murung tak peduli
Angin menggiringnya pergi

Mungkin sebentar lagi

Ia turun membasahi
Tak peduli manusia yang belum kembali
Pada rumahnya sendiri

Sebelum tetesannya jatuh ke bumi

Segeralah kembali
Ke tempat dimana ada kehangatan
Dan disana ada rasa nyaman

*intinya segeralah pulang, nanti keburu hujan dan kedinginan :p

Negeri Di Barat Negeri

Di ujung barat negeri
Ada propinsi bernama negeri
Konon banyak orang baik hati
Sayang, belum pernah ku singgahi

Disana bekas perang
Kegaduhan yang menghancurkan
Disana pernah tsunami
Menghanyutkan kegembiraan

Aku mencintai negeri ini
Sedalam dan sepenuh hati
Suatu hari nanti
Aku akan menginjakkan kaki
Di bumi Nanggroe Aceh Darussalam

Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu


 Karya: A. Mustofa Bisri



Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama
Sejak kita di sekolah rakyat
Kita berebut lebih dulu menyanyikannya
Ketika anak-anak disuruh
Menyanyi di depan klas satu-persatu
Aku masih ingat betapa kita gembira
Saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu
bersama-sama
Sudah lama sekali
Pergaulan sudah tidak seakrab dulu
Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri
Atau tersihir pesona dunia
Dan kau kini entah dimana
Tapi aku masih sangat hafal nyanyian itu, sayang
Hari ini ingin sekali aku menyanyikannya kembali
Bersamamu

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Aku merindukan rasa haru dan iba
Di tengah kobaran kebencian dan dendam
Serta maraknya rasa tega
Hingga kini ada saja yang mengubah lirik lagu
Kesayangan kita itu
Dan menyanyikannya dengan nada sendu

Indonesia tanah air kita
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Selalu dihina-hina bangsa
Disana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan dunia
Tempat bertarung merebut kuasa
Sampai entah kapan akhirnya

Sayang, dimanakah kini kau
Mungkinkah kita bisa menyanyi bersama lagi
Lagu kesayangan kita itu
Dengan akrab seperti dulu


Tersenyumlah Saat Kau Mengingat Tentang Kita

    Waktu terasa semakin berlalu
    Tinggalkan cerita tentang kita
    Akan tiada lagi kini tawa mu
    Tuk hapuskan semua sepi di hati
 
    Ada cerita tentang aku dan dia
    Dan kita bersama saat dulu kala
    Ada cerita tentang masa yang indah
    Saat kita berduka, saat kita tertawa

    Teringat disaat kita tertawa bersama
    Ceritakan semua tentang kita....
    by. Peterpan


Sahabat saya menuliskan lirik lagu Peterpan diatas dalam suratnya bulan lalu. Dia mengirimkannya bersama hadiah yang khusus dibuatkan untuk ulang tahun ku. Sejak jauh-jauh hari, dia sudah katakan akan memberiku hadiah. Aku terharu, meski terpisah jarak yang begitu jauh, dia tetap ingat.

Tepat setahun sejak perpisahan yang tragis itu, aku tak pernah melihatnya lagi. Tiba-tiba kebersamaan kami berakhir dalam sekejap. Aku merasa sedih, mungkin juga shock, karena harus kehilangan 2 orang yang ku kasihi sekaligus saat itu; sahabat dan kekasih ku. Tapi tentu saja aku tak bisa menentang keadaan yang telah digariskanNya. Ikhlas, kata itu yang terus ku dengar dari nasihat teman-teman ku.

Aku pun tahu, dia disana juga sama sedihnya. Bahkan mungkin lebih sedih dari ku. Pertemuan terakhir ku dengannya saat 'My Crazy Birthday Party' di Forbik tahun lalu. Dan kemudian, aku tak pernah melihatnya lagi. Dia memberiku sebuah hadiah, warna kesukaan ku: hijau, yang terus ku simpan hingga kini.

Aku ingin katakan hal yang sama yang kau rasakan.
Semua kenangan tentang hari-hari kebersamaan kita.
Saat senang, saat sedih.
Saat kau hanya percaya aku untuk menceritakan keluh kesah mu.
Saat kita sibuk bergosip di Yahoo Messenger.
Saat kita curhat via inbox Facebook.
Atau saat kita saling meneruskan email-email lucu.

Aku ingin katakan hal yang sama yang kau rindukan.
Aku rindu duduk berdampingan menikmati senja di Monas.
Rindu berfoto narsis di semua tempat yang kita lalui.
Atau rindu saling merajuk meminta ice cream. Aku rindu, sangat merindumu.

Apa kau percaya suatu hari nanti kita bisa menikmati lagi semua yang telah kita lalui?
Percayalah, selalu ada harapan dalam hidup ini.
Karena harapanlah yang membuat hidup kita menjadi bermakna, untukmu, untukku, untuk kita.
Jadi, ayolah kita percaya bahwa harapan itu selalu dan masih akan ada.

Jangan bersedih, jangan bersedih...
Tersenyumlah saat kau sedang mengingat tentang kita :)


Untukmu, gadis di ujung timur negeri, Merauke, Papua; Yohana Maria Venesia

Wanita Mudah Menangis

Wanita sangat mudah menangis. Entah itu sesuatu yang menyedihkan atau membahagiakan... wanita selalu mudah meneteskan airmatanya. Entah karena masalah hidup atau nonton sinetron/film yang sedih pun, wanita dengan mudah bisa menangis. Gak semua wanita sih, ada juga yang gak mudah menangis, tapi mayoritas wanita MM = Mudah Menangis :P

Saya juga termasuk ke golongan wanita yang mudah menangis. Akut malah. Entah itu karena lagi beneran sedih, ada masalah keluarga, masalah pribadi, masalah ma pacar, nonton sinetron/film yang sedih, lihat kecelakaan di jalan, bahkan kalau hormon lagi gak stabil (PMS) saya bisa tiba-tiba menangis hanya untuk sekedar meluapkan emosi yang berlebihan menjelang si bulan datang, hehehe.. (mungkin karena itu, cewe begitu menyebalkan kalo lagi datang bulan :P).

Saya ingat suatu hari di tahun 2009 lalu, saya yang kebetulan sedang PMS dan juga ada sedikit masalah di kerjaan, pulang lebih awal dari kantor. Setibanya di rumah, entah kenapa tiba-tiba emosi saya begitu meledak-ledak. Perasaan marah, kesal, sebel campur jadi satu. Dan satu-satunya pelampiasannya adalah : menangis. Tapi, saat itu saya tidak ingin menangis sendirian. Saya mau ada yang mendengarkan saya menangis (nyebelin banget yak? Hihihi :D).

Saat itu saya punya pacar yang cukup sabar jika saya berada dalam kondisi labil :P. Segeralah saya telepon dia dan dengan polosnya bilang :
“Ai... aku lagi sedih, pengen nangis”
“Kenapa kok sedih?”
“Gak tahu, kesel aja bawaannya, cuma pengen nangis aja sekarang”
“Yauda, nangis lah”

Sekitar 10 menit saya menangis, menumpahkan segala emosi yang bersarang di kepala yang lumayan bikin cenat-cenut (emosi selain menguras energi, juga bisa bikin sakit di kepala, karena itu harus dikeluarkan :D). Setelah suara tangisan saya mereda, pacar saya tanya :
“Sudah selesai nangisnya?”
“Udah”

Kebetulan dia sedang memegang gitar, lalu mulailah dia menyanyi lagu yang dia tahu cewek-cewek bisa meleleh dengernya :P. Saat itu, dia menyanyikan lagu “You Took My Heart Away”-nya MLTR (yang kemudian menjadi lagu favorit saya :P). Usai lirik terakhir, dia tanya lagi :
“Perasaan mu sudah lebih baik?”
“Udah”
“Kamu ada masalah apa?”
Mulailah saya cerita, “Iya, tadi aku bla..bla..bla...
Setelah saya ceritakan masalah yang sebenarnya sepele itu, mulailah dia memberi wejangan.

“Dengar, masalah mu sebenarnya sepele, tapi aku gak tahu kenapa kamu sampai histeris nangis gini. Apa itu karena pengaruh hormon mu yang mau datang bulan ya gak tahu juga. Tapi dengar beib, kamu harus bisa mengontrol emosi mu mulai sekarang. Kamu tahu? laki-laki paling gak bisa dengar perempuan nangis, kami jadi bingung apa yang mau kami perbuat untuk menghentikan kalian (perempuan) yang menangis. Apalagi dirimu yang nangis, makanya tadi aku diemin aja kamu nangis. Aku tahu perempuan itu mudah menangis, tapi jika ada masalah sedikit terus nangis, gak benar juga begitu. Aku suka wanita yang tegar, dan aku mau dirimu jadi wanita yang tegar dengan mengontrol emosi mu, paham?”

“Paham, ai. Maaf ya.”
“Bagus kalau sudah paham. Yasudah, aku lanjutin kegiatan ku lagi ya. Kamu istirahat lah”
“Iya, makasih”
Klik. Telepon ditutup.
 -----

Sejak itu saya belajar untuk tidak menuruti emosi yang sebenarnya hanya sesaat. Jika pun mau menangis, dipikir lagi seberapa penting meluapkannya dalam tangisan. Kalau yang benar2 sediiiihh banget, baru deh saya nangis, hoho :P
(Jadi ingat, baru2 ini saya menangis selama 5 menit dan memaksa sahabat saya mendengarkannya di telepon, hahaha..)

Lagipula, saya memang harus kuatkan diri saya agar tidak terlalu mudah menangis. Karena, tak lagi ada dia yang menghibur saya dan memberikan nasehat kedua kalinya tentang pengontrolan emosi dan meminimalisir tindakan menangis. Untuknya, saya ucapkan terima kasih, bersama kamu banyak hal yang saya pelajari dan pahami. Tetap semangat ! :-)



Wiwietz  
12 May 2011