Pages

Subscribe:

Labels

Rabu, 26 Januari 2011

Jangan Bicara Cinta

Jangan bicarakan cinta
Biarkan aku bernafas
Biarkan aku terlepas
Aku lelah berlari dan mencari

Jangan bicarakan cinta
Aku bosan dengan ungkapan rasa
Aku bosan dengan sensasinya
Aku lelah merasa dan dirasa

Jangan bicarakan cinta
Biarkan rasa itu hilang
Biarkan rasa itu terbang
Aku lelah bertahan dalam rasa

Jangan bicarakan cinta
Karena cinta saja tak cukup
Karena cinta tak slalu kuat
Aku lelah dan kini menyerah

Aku mohon, jangan bicarakan cinta
Hingga aku siap kembali padanya
Bicara dengan kata
Bicara dalam rasa
Bicarakan cinta




# Tulisan ini dibuat saat sedang patah hati, tulisan ini tidak akan sama saat aku jatuh cinta lagi, nanti.....



Wiwietz
26 Januari 2011

Senin, 17 Januari 2011

Pengamen Cilik Metromini

Aku selalu menyukai perjalanan ku menuju Forbik. Banyak hal-hal yang berhubungan dengan “manusia” yang bisa ku perhatikan. Entah sejak kapan menyukai ini, tapi aku bersyukur masih memiliki hati “manusia”. Hari ini sama seperti hari minggu yang sebelumnya, aku berangkat menuju Forbik yang berada di Kramat Senen menggunakan bus umum Metromini 07.

Sekitar setengah jam yang lalu, seorang teman sudah mengirim sms yang isinya menanyakan posisi ku, padahal aku belum keluar 1 langkah pun dari rumah :D. Begitu naik angkutan jurusan Semper-Senen ini, aku pilih duduk di kursi paling belakang karena beberapa alasan, salah satunya menghindari pencopet, karena beberapa bulan lalu aku dipaksa berpisah dengan Sony Ericsson K310-ku karena dicopet dalam bus Metromini ini. Menurutku, dengan duduk dibelakang jadi lebih bisa memperhatikan tingkah orang-orang yang mencurigakan.

Menaiki kendaraan metromini sebenarnya jauh dari nyaman, suaranya bising, kotor, bau, banyak copet dan supirnya lebih banyak ngasal  daripada benernya saat menyetir bus yang sudah lapuk ini. Tapi apa boleh buat, hanya bus inilah yang mengantarkan aku ke Forbik, selain itu ongkosnya pun lumayan murah, jauh dekat hanya 2 ribu perak. Berbeda jika harus naik Taksi, yang sama siapnya mengantarkan aku dengan lebih safety dan nyaman, tapi biayanya yang bikin gak nyaman :D.

Lima belas menit perjalanan, sekitar daerah Pertamina naik seorang pengamen cilik. Dia berdiri di depan, bernyanyi sambil menepuk-nepuk kedua tangannya sebagai irama pengiring. Aku tak bisa melihat tubuhnya yang kecil karena banyak penumpang lain yang tidak dapat tempat duduk berdiri menutupinya, tapi suara nyanyiannya terdengar samar-samar karena dipaksa beradu dengan kebisingan mesin bus ini. Entah lagu apa yang dinyanyikan pengamen cilik itu. Tidak lama suaranya terhenti, ternyata lagunya sudah selesai, dia mulai berjalan menyusuri tempat duduk penumpang satu-persatu untuk meminta recehan.

Tiba dia dibelakang, aku belum menyiapkan recehan untuk ku berikan padanya tapi dia tidak menadahkan tangannya ke arah ku. Dia berdiri didepan pintu bus dengan wajah lesu, mungkin uang recehanya hanya sedikit yang didapatkan. Ku kira dia mau langsung turun, buru-buru ku rogoh kantong jeans meraih uang untuk ku berikan padanya. “Adek, ini buat kamu,” kata ku. Dia meraihnya dan mengucapkan terima kasih. Usianya sekitar 6-7 tahunan, seumuran dengan keponakanku, Tata. "Ahh, bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah mencari uang dijalanan," pikirku dalam hati. Ternyata pemberhentiannya masih lama karena beberapa kali bus berhenti dia belum turun juga. Sepanjang perjalanan dia berdiri dipintu bus dan sesekali memperhatikan uang yang tadi ku berikan, lalu dipegangnya erat-erat.

Sebelum lampu merah Cempaka Mas, seorang penumpang disebelah ku turun, lalu aku memanggil bocah itu untuk duduk disebelahku. “Adek, sini duduk,” kataku, lalu dengan susah payah karena bus masih melaju dia berusaha duduk, ku pegang tangannya dan membantunya sampai duduk. Setelahnya ku ajak dia mengobrol.

“Kamu sekolah gak?” tanya ku.
“Sekolah mbak” jawabnya
“Kelas berapa?”
“Kelas dua SD”
“Hmm.. rumahmu dimana dek?”
“Disitu” (sambil menunjuk ke arah luar)
“Ohh, Pedongkelan ya?”
Lalu dijawabnya dengan menggangguk.

“Tinggalnya masih sama orang tua?”
“Iya”
“Sama Ibu Bapak?”
“Sama Ibu aja, saya anak yatim mbak”
“Ohh...”

Tiba di halte Cempaka Mas, dia pamit turun.

“Saya tinggalin dulu ya, Mbak”
“Iya, hati-hati ya dek”

Lalu dia turun dan berlari kecil menaiki jembatan penyebrangan busway. Sayangnya sampai kami berpisah, aku lupa menanyakan nama bocah pengamen cilik itu.






Wiwietz
16 Januari 2011

Jumat, 05 November 2010

Jika Kita Bersama Nanti

Jika kita bersama nanti
Aku ingin menikmati setiap tetesan gerimis hingga guyuran hujan bersama mu
Menikmati saat mentari mulai bersinar hingga senja datang

Jika kita bersama nanti
Aku ingin bernyanyi dan menari bersama mu
Menari di atas titik embun di rerumputan, tertawa dan bergandeng tangan

Jika kita bersama nanti
Aku ingin selalu jadi yang terdekat dengan mu setelah udara untukmu bernafas
Sedekat awan dengan langit

Jika kita bersama nanti
Aku ingin bersama mu menghadapi badai di masa depan
Menguatkan mu saat kau lemah
Memelukmu untuk menyakinkan bahwa kita akan hadapi badai itu bersama

Jika kita bersama nanti
Aku ingin menjadi orang yang paling tahu tentang mu
Tahu setiap perubahan garis di wajah mu
Tahu setiap tetes peluh yang keluar dari tubuh mu

Jika kita bersama nanti
Aku ingin nama ku jadi yang pertama kau sebut saat kau bangun dari tidur mu
Pertama saat kau terbangun dan melihat bahwa aku ada

Jika kita bersama nanti
Aku ingin menemanimu membesarkan anak-anak kita kelak
Hingga hadir diantara kita cucu-cucu dari mereka

Jika kita bersama nanti
Aku ingin bersamamu hingga dari kita tak mampu bersama lagi di dunia
Tapi tersenyumlah...
Jika aku yang tak mampu menemanimu di dunia lebih lama, aku akan menunggumu disana
Karena kita akan bersama selamanya disana, di tempatNya...




*untuk seorang terkasih yang aku menunggunya hingga kita bersama nanti... :)

Selasa, 26 Oktober 2010

Catatan Seorang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan. Setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari itu.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak. Kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat. Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet.

Pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang di sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh di meja dia. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan “tidak usah, tidak usah.”

Kami mengatakan, “Engkau sudah haus, minumlah,” Pada saat itu dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami.  Kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya. Katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir.

Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan. Itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik. Putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota pernah menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota, tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa.

Kali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking. Tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal.

Dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya, dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya.

Ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur.

Akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakkan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar.

Saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil, dan meminta saya meletakkan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya.

Kami semua sangat kaget. Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa, dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar, disisihkannya makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh di dalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut.

Tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan, tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri. Perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat,

Sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai.

"Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian."

Dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja di lapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain.

Tetapi belum pernah kami menjumpai orang yang menyembah kami. Kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan.

Tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya.

Perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya di masa datang, yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.




Jumat, 02 Juli 2010

Kosong

"Aku adalah kosong"
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di otak ku. Benarkah aku kosong? Benarkah diriku yang sekarang ini kosong?
Mungkin saat aku menulis tulisan ini, hati ku masih sedih.. "masih belum waras", begitu kata teman-teman ku bilang. Entahlah... seperti ada yang kosong disini, dihati ku..


"Setiap manusia memiliki ruang kosong di hatinya. Ketika seseorang datang dan kita berpikir bahwa orang tersebut telah mengisi ruang kosong itu, sebenarnya dia hanya berdiri di depan pintu dan menyamarkan ruang kosong tersebut. Ruang kosong di hati kita tetap ada dan tak akan pernah benar-benar terisi.."


Ternyata rasa kehilangan itu masih sama. Masih saja menyebalkan. Masih sakit dan menghancurkan, juga dengan rasa sesak di dada. Kenapa Tuhan menciptakan perjumpaan, jika setelahnya harus ada perpisahan?
Aahh yaahh, aku lupa bahwa di dunia ini tak ada yang kekal.. tak ada yang abadi.
Hanya janji-janji manis manusia saja yang mengatakan "sekarang dan selamanya, love you always and forever and bla..bla..bla.. and bla..bla..bla"

Haaahhh.. Sungguh manis janji-janji itu. Atau aku saja yang belum bisa ikhlas menerima kenyataan ini.. Entahlah.. Hanya ada kosong dan hampa.. Susah sekali menganggap bahwa ini sudah selesai, game is over ! Aku masih tak bisa merelakan, sungguh...

Tuhan, jika aku tak bisa merelakan perpisahan, apa pantas aku mengharapkan perjumpaan?
Maafkan aku Tuhan, maafkan aku...

Kamis, 24 Juni 2010

Saat kisah ini harus berakhir...

Malam ini kisah kita berakhir...
Entah ini salah ku atau salah mu
Ku kira tak pantas menyalahkan salah satu dari kita

Anggap ini takdir, mungkin jodoh kita hanya sampai disini

Sesungguhnya.. aku tak bisa merasa kehilangan lagi
Setelah sebelumnya aku kehilangan seseorang yg sungguh-sungguh aku cintai

Aku ingin kau tahu, aku tak mengganggap kisah ini main-main
Hidup terlalu singkat untuk dibuat main-main
Aku juga tak berharap ini hanyalah salah satu "Game of Heart" antara dirimu dan diriku

Tuhan, dahulu aku berdo'a padaMu..
"Jika dia jodoh ku, maka dekatkanlah.. jadikan aku yang terbaik baginya, dan jadikan dia yang terbaik bagiku. Namun jika tidak, jauhkanlah kami.. Berikan pendamping yang terbaik baginya dan juga bagi ku. Sesungguhnya hanya Engkau Maha Mengetahui Sesuatu Yang Terbaik"

Tuhan, kali ini aku kembali berdo'a padaMu..
"Tuhan, jika disetiap pertemuan mendatangkan kebahagiaan, ingatkan aku untuk bersyukur padaMu.
Dan jika setelahnya harus ada perpisahan, ingatkan aku juga agar mengikhlaskannya karena Mu.."

Ya Allah, jadikan aku seorang yang ikhlas...
Engkau Maha Tahu yang terbaik bagi hambaNya, sedangkan kami tidak mengetahui..



24 Juni 2010
malam yang dingin dengan tetesannya...

Minggu, 07 Juni 2009

Antara Jakarta dan Medan



Hari ini aku berangkat ke Medan dengan pesawat Airasia QZ 7497 ETD 10.50 ETA 13.05.
Perjalanan pertama keluar kota, sendirian.. naik pesawat, ke kota asing yang sama sekali aku gak pernah tahu, bertemu orang-orang asing, yang belum pernah bertemu sebelumnya.
Nekat ??? hahaha... banyak yang bilang gtu sih.. :D
Sampe-sampe diriku di omelin sama Dessy, sistaku yang baweelll...hoho..
(Maaf sis, gw emg gak tau kota ini cuma gw ttp pengen kesini.. meskipun.. ??? u know lah.. hehe).

Aku berangkat dari rumah jam 08.00 pagi, naek DAMRI (Angkutan khusus bandara). Tiba di bandara Internasional Soekarno Hatta jam 09.00. Celingak-celinguk kayak orang bodoh sendirian di depan terminal 3, hehehe.. tapi tetep stay cool aja deh!!
Setelah 10 menitan "mejeng" di depan terminal 3, menikmati terminal yang baru dibangun ini dengan gaya "luar negeri" yang minimalis (haha.. norak bgt ya?? bodo' ahh!! :P).

Aku masuk ke pintu keberangkatan. Setelah di cek bagasi langsung menuju ke counter cek-in Airasia. Ada 3 orang ibu-ibu mengantri di depan ku. Orang pertama dan kedua sudah saling mengenal, mereka cek in pertama dan menggunakan bahasa Chinese Hokkian dengan petugas counter cek in yang rupanya juga udah lancar menggunakan bahasa itu. Sementara orang ketiga, seorang wanita paruh baya, membawa 2 koper besar dan 1 tas ukuran sedang, wajahnya terlihat lelah dan menggunakan mantel hangat. Begitu aku mendekat berdiri di antrian di belakangnya, wanita itu tersenyum ke arah ku dan menanyakan hendak ke Medan. Aku menjawab pertanyaannya dengan mengangguk sambil membalas senyumnya. Dia bilang sedang tidak enak badan dan memohon untuk di bantu cek in. Aku katakan aku bersedia membantunya, kemudian dia memberikan tiket dan KTP-nya padaku beserta selembar uang 50 ribuan untuk membayar airport tax.

Sayang nomor seat kami saling berjauhan, ibu itu duduk di seat nomor 9C, sementara aku di 22D. Petugas counter cek in tadi bilang, jika tiketnya terpisah tidak bisa di berikan nomor seat berdampingan dan peraturan penempatan seat memang memberikan seat yg terdepan untuk wanita/pria lansia, paruh baya dan anak-anak, sementara untuk yang lebih muda akan diberikan seat dibelakang.

Setelah selesai check-in dan bagasi, aku kembalikan KTP, boarding pas dan sisa kembalian airport tax padanya. Kemudian dia mengucapkan terima kasih sambil memperkenalkan dirinya. Namanya ibu Debora Siringoringo. Orang Medan asli kalau ku lihat dari nama marganya, tapi ketika ku lihat KTP-nya tadi dikeluarkan di kota Surabaya. Namun aku enggan menanyakannya. Dia memintaku memanggilnya dengan sebutan "bu De", singkatan dari Ibu Debora.
Setelah kami saling berkenalan, ku lihat jam di tangan ku masih ada waktu 30 menit lagi sebelum kami masuk ke Boarding Lounge. Dia mengajak ku keluar karena keluarga yang mengantarkannya masih menunggunya.

Aku dikenalkan pada anak laki-lakinya, menantu perempuannya dan tiga orang cucu-cucunya yang manis. Aku paling suka dengan cucunya yang bungsu, namanya Jocelyn. Usianya sekitar 2 tahun, kulitnya putih, berambut lurus dengan poni didepan dahinya, dia terlihat sangat manis dan sangat sayang dengan oma-nya. Hal ini terlihat ketika Bu De keluar dan mendekat kearahnya, Jocelyn kecil begitu gembira dan ingin memeluk oma-nya.. hmm, manisnya.

Pukul 09.30 setelah bu De berpamitan dengan keluarganya, kami masuk kembali ke dalam dan langsung menuju boarding lounge di lantai 2. Sebelum keluarga bu De pamit pulang, anak laki-lakinya menitipkan ibunya pada ku, "titip ibu saya ya mbak..terima kasih!" katanya sambil menjabat tangan ku. Masuk ke boarding lounge kami mengambil tempat duduk di zona 5, tempat menunggu untuk tujuan Medan. Saat kami menunggu itu, bu De cerita banyak soal keluarganya dan tujuannya ke Medan adalah ke kampung halamannya di daerah Tomok, Parapat. Suami dari bu De telah lama meninggal dan setelah kepergian suaminya bu De memutuskan untuk menetap di Surabaya karena selama sang suami masih hidup, dia memang telah tinggal disana. Ketika aku menanyakan kenapa tidak tinggal dengan anak laki-lakinya yang tadi mengantarnya, dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa anaknya telah memilki kehidupannya sendiri walaupun anak dan menantunya telah memintanya untuk tinggal bersama mereka namun bu De memilih untuk tidak bergantung pada anaknya.
Bu De seorang ibu yang sangat bijak, sangat sayang pada keluarga, anak, menantu dan cucunya, meskipun usianya sudah separuh baya tapi dia tetap mandiri dan tidak ingin menyusahkan orang lain.

Di area boarding lounge, kami banyak bertemu dengan orang-orang Batak-Medan dengan berbagai macam marga. Bu De dengan bahasa bataknya menyapa mereka ramah dan saling memperkenalkan diri, marga dan daerah asal masing-masing. Aku agak canggung di tengah orang-orang batak itu dan sesekali bu De juga memperkenalkan aku pada mereka.

Setelah sekitar 1 jam kami menunggu, akhirnya saat yang ditunggu tiba juga. Pukul 10.20 petugas AirAsia memberitahukan para penumpang tujuan Medan untuk datang ke counter untuk mengecek kembali nama di boarding pass telah sesuai dengan KTP. Peraturan penerbangan, nama penumpang harus sesuai dengan nama di kartu identitas. Hal ini penting, seandainya pesawat tersebut mengalami kecelakaan misalnya, pihak penerbangan akan menginformasikan nama-nama penumpang dalam pesawat dan jika terburuknya si penumpang tersebut meninggal, santunan dari pihak penerbangan dan asuransi akan diberikan pada korban yang namanya sesuai dengan kartu identitasnya. Nauzubillahimindzalik... jangan sampe deh hidupku berakhir dalam pesawat!

Perjalanan ke Medan memakan waktu sekitar 2 jam 15 menit (ini kalo aku hitung dari estimasi jam berangkat sampai jam tiba). Aku mendapat nomor seat 22 D, harusnya di aisle (jalanan antara deretan tempat duduk/gang) tapi begitu ku lihat, seat 22 D ku sudah ditempati orang, 22 E juga sudah terisi, yang tersisa 22 F. Mau gak mau aku beranikan diri duduk di sebelah window itu walaupun sebenarnya aku punya phobia ketinggian. Begitu aku duduk, sebenarnya aku senang juga, pengalaman pertama naik pesawat dikasih kesempatan untuk melihat awan juga (Thanks buat bapak yg nempatin seat 22 D-ku, hehe..) tapi begitu aku melihat keluar jendela, darah ku langsung serr..serr.. melihat celah sayap menutup saat pesawat take off, merasakan guncangannya sambil melihat rumah-rumah penduduk dibawah perlahan mengecil dan hilang, tergantikan oleh awan-awan putih di langit.

Dua puluh menit pesawat mengudara, ku ambil buku dari tas ku, hadiah dari seorang sahabat yang sudah ku anggap saudara di Forbik. Aku baca buku itu untuk mengisi waktu di dalam pesawat namun guncangan demi guncangan membuat aku gak nyaman. Hmmm... perasaannya ngeri, tapi seneng karena beberapa jam lagi akan bertemu si sipit, tapi takut lagi karena si pramugari bilang sudah berada di ketinggian 36.000 kaki dan dia mengingatkan agar tetap menggunakan sabuk pengaman. Duh, ngeliat keluar jendela udah merinding lagi. Tidak lama, sang pilot berbicara dari ruang kemudinya, menginformasikan bahwa pesawat mengalami turbulan (guncangan) karena cuaca yang sedang buruk dan perbedaan arah angin sehingga pesawat dihantam angin yang berlawanan dan posisi pesawat saat ini berada di arah barat kota Palembang dengan ketinggian 36.000 kaki dari permukaan laut. Haduuh.. makin merinding diriku. Semakin banyak do'a ku baca, buku yang sejak tadi ku baca, ku letakkan begitu saja, jendelanya juga langsung ku tutup. Tapi begitu aku melihat ke sebelahku, 2 bapak-bapak itu asyik bobok siang dan terlelap dengan mimpinya masing-masing. Kok beda ya ma diriku? aku udah baca Al-Fatihah abis-abisan, tangan dan kaki jadi dingin semua, tapi orang-orang disebelahku adem ayem saja. Hmm.. mungkin jam terbang mereka sudah tinggi, sehingga guncangan yang begitu gak ngefek lagi, mungkin juga aku yang norak kali ya.. (dugaan terakhir pasti yang paling besar peluang kebenarannya, hoho.. :D).

Pesawat mendarat pukul 12.50. Lima belas menit lebih cepat. Menurut informasi yang aku tahu dari bos ku, semakin lambat waktu tibanya, semakin safety..karena pesawat menghindari badai agar tidak terjadi turbulan karena turbulan-turbulan yang terus-menerus mengantam pesawat bisa merusak sistem dan mesin pesawat, contohnya mungkin yang terjadi pada pesawat Air France yang jatuh di samudera atlantik dalam penerbangan dari Brasil menuju Paris, Perancis. Jadi kalo pesawatnya tiba lebih cepat dari schedule bisa jadi tu pesawat ngebut, hoho.. karena klo pesawat menghindari badai dengan mengubah sedikit jalurnya, akan memakan waktu lebih lama dan bahan bakarnya juga lebih banyak. Weleh-weleh.. ternyata pilot mengalami dilemma juga, klo ada badai dia gak menghindar, bahaya buat keselamatan diri dan penumpangnya tapi klo menghindar, bakal di omelin sama bos karena bahan bakarnya boros dan schedule berikutnya jadi delay. Tapi pilot Indonesia kayaknya pada gak takut mati nie.. kualitas pesawat yang kurang, maintenance jarang-jarang, spare part tambal-sulam, tapi tetep nekat nabrak badai biar cepet nyampe dan ngirit avtur (apalagi pesawat berwarna orange dgn inisial A, wah paling parah tu.. untung sekarang udah tutup :P).

Pesawat telah tiba di Polonia International Airport. Aku keluar dari cabin melalui pintu belakang dan langsung masuk ke shuttle bus yang membawa penumpang ke gedung tempat kedatangan. Aku tunggu bu De di depan pintu masuk gedung. Tidak lama tangan bu De menyapaku. Kami masuk ke dalam gedung dan menuju tempat pengambilan bagasi. Barang-barang bu De cukup banyak, ada 2 koper ukuran besar dan 1 tas ukuran sedang. Aku mendapatkan barang ku lebih dulu, 1 buah koper berwarna pink dengan ukuran kecil yang ku pinjam dari Vina, teman ku dikantor :P. Kemudian aku bantu bu De mencari barang-barangnya. Setelah 15 menit menunggu, akhirnya barang-barang kami sudah lengkap. Kami berjalan menuju pintu keluar.

Bandara Polonia Medan sangat crowed, pantas saja bos ku yang memang berasal dari Medan mengatakan bandara Medan gak teratur. Banyak calo dan semuanya serba gak teratur. Dengan susah payah akhirnya kami berhasil melewati padatnya orang-orang yang berkerumun, menunggu kedatangan teman, saudara dan keluarganya. Aku melihat sekeliling keadaan bandara Polonia, orang-orangnya dan langit di kota ini. Kota yang sangat asing buat ku, aku tak pernah sekalipun kesini, walaupun dikantor aku sering meng-issued tiket tujuan ke kota ini.

Aku putuskan untuk menemani bu De sampai mobil yang menjemput dan akan mengantarkannya ke Parapat tiba. Sambil menunggu, bu De mengajak ku masuk ke salah satu restoran, dia menawarkan ku makan namun aku menolak dan kami hanya minum jus buah. Bu De menanyakan pada ku sampai kapan aku di Medan, aku menjawab hari kamis sudah kembali ke Jakarta. Bu De menyesal karena aku tidak lama di Medan, dia menawarkan untuk mengajak ku ke Parapat, dia bilang Parapat itu indah dan aku harus datang kesana. Aku senang sekali dengan ajakan bu De dan berjanji jika ada kesempatan lagi, aku pasti mau datang ke Parapat.

Tidak lama mobil yang menjemput bu De datang. Aku membantu bu De membawakan barang-barangnya ke dekat mobil dan pak Supir membantu menaruh barang-barang itu ke dalam mobil. Waktu perpisahan ku dengan bu De semakin dekat. Aku mencium tangan bu De dan bu De memeluk ku. Dia berkata, "Kamu hati-hati di Medan ya Wit, terima kasih udah bantuin bu De dari Jakarta sampai ke Medan. Bu De pergi duluan ya, tapi nanti kalau bu De kembali ke Jakarta, bu De pengen ketemu lagi sama kamu, kita jadi teman ya sekarang? anggap bu De teman kamu, Ok?! Jaga diri baik-baik ya Wit!", aku hanya bisa mengangguk dan menjawab iya atas semua pesan-pesan bu De. Dia juga memberikan beberapa lembar uang padaku, katanya sebagai tanda terima kasihnya padaku, aku berusaha menolak dan bilang kalau aku membantunya dengan ikhlas tapi dia tetap ingin agar aku menerimanya. Aku berterima kasih dan mengucapkan selamat jalan padanya. Mobil yang membawa bu De bergerak menjauh dariku. Aku tidak akan melupakan kebersamaan ku yang sebentar ini bersama ibu Debora.

Sekarang tinggal aku sendiri dan aku masih harus melanjutkan perjalananku. Aku lihat jam di tanganku, pukul 14.15. Tiba-tiba handphone ku berbunyi, sebuah pesan singkat masuk ke inbox. Aku buka isinya, dari Rony, dia tanya apakah aku sudah tiba di Medan. Aku balas, aku sudah sampai di Polonia dan sebentar lagi on the way. Ku masukkan hp ku ke dalam tas. Aku pandangi lagi sekelilingku, kemudian menatap langit diatas kota ini. Aku menutup mata ku dan berkata dalam hati : "Selamat datang di Medan Wit, kota yang asing bagimu.. Semoga Allah menjagamu di kota ini sampai kembali ke Jakarta, amien!!".

Ku panggil taksi dan memberinya alamat tempat tujuan ku. Taksi yang membawaku berjalan menjauh dari Polonia. Aku menikmati pemandangan kota Medan dari balik kaca. Tinggal beberapa jam lagi aku akan bertemu Rony, perasaan senang dan bahagia segera menyelimutiku dan pasti akan banyak momen-momen indah yang akan kami lewati bersama, nanti.


Wiwiet
Medan, 7 Juni 2009